Sudah Siap Pensiun? Jangan Hawatir!

cropped-img_20161023_1551191.jpg

Setelah membaca beberapa artikel (saya lupa laman artikelnya), mendadak saya merasakan adanya ketidakpastian dalam hidup, karena artikel tersebut menjabarkan bagaimana kisah pertemuan antara pegawai aktif dengan salah seorang yang sudah pensiun lebih dulu. Singkat kata singkat cerita, setelah pensiun, si A (bukan nama sebenarnya) merasakan hidupnya menjadi kurang baik dan cenderung sulit. Orang-orang yang sudah lama dikenalnya saat bekerja cenderung menghindarinya, bahkan istrinya pun menjadi kurang perhatian dengan kondisi pasca pensiunnya. Kehidupannya berbeda sekali sewaktu dia masih bekerja. Tentu saja, setelah membaca artikel tersebut saya berfikir, bisa jadi, saya mungkin akan mengalami hal yang sama. Wajar?

Kehawatiran merupakan hal yang sangat wajar, terutama untuk sebagian orang yang (akan) memasuki masa pensiun, pun para Aparatur Sipil Negara (ASN) di Instansi Pemerintah. Seseorang yang semula adalah pegawai, maka ketika orang tersebut sudah memasuki usia pensiun, maka dia akan akan beralih status dari seorang pegawai menjadi pensiunan. Bisa jadi, yang tadinya mereka merasa aktif dan energik, mendadak berganti menjadi pasif, yang tadinya diliputi dengan kewenangan dan kekuasaan, mendadak menjadi kehilangan kekuatan. Tentu saja, tidak semua orang memiliki cara pandang  yang sama saat menyikapi masa pensiun masing-masing. Sebagian orang memilih pasrah karena itu “rule of the game”, sebagian lagi memilih tetap bersemangat karena “start for a new life”.

Fenomena seperti ini sebenarnya sudah lama terjadi dan tidak lagi menjadi rahasia umum. Menyiapkan masa pensiun bukanlah hal yang mudah. Salah satu laman menunjukkan informasi bahwa hasil survei yang dilakukan oleh Life Insurance Marketing Research Association (Limra), bahwa terdapat 49% pensiunan yang kemudian menggantungkan hidup kepada orang lain, 29% meninggal saat pensiun, 12% mengalami kebangkrutan, 5% tetap bekerja, 4% mampu mandiri, dan hanya 1% yang kaya saat pensiun. Jadi?


Donate for a coffee.

Keep me create great content for you.

$5.00


Untuk memitigasi hal tersebut, sekiranya kita bisa melakukan persiapan pensiun sejak dini. Bahkan, ketika baru masuk bekerja sekalipun, kita sudah bisa menentukan kapan akan pensiun dan bagaimana kondisi kita ketika kita pensiun nanti. Beberapa hal yang bisa kita persiapkan dalam masa pensiun diantaranya: Pertama, Mempersiapkan kondisi fisik dan mental. Sebagian besar, orang tidak siap menghadapi masa pensiun. Tentunya pensiun akan banyak menimbulkan kekhawatiran, bosan atau stres karena tidak ada kesibukan, hingga kekhawatiran mengenai jaminan kesejahteraan. Mulai sekarang, cobalah selalu berpikiran positif atas apa yang telah anda capai selama ini. Cobalah berdiskusi secara terbuka dengan pasangan, anak atau sahabat dekat kita. Biasanya, berdiskusi akan membuat kita lebih tenang dibandingkan memendam masalah kita sendirian.

Kedua, menetapkan (kembali) tujuan hidup kita. Ingat, tujuan hidup kita lah yang membuat kita bisa tetap bersemangat dan bertahan hidup. Bisa jadi, kita memiliki beberapa misi yang berbeda atau tujuan yang berbeda selama mengisi masa pensiun. Anda bisa bertanya mengenai apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup Anda. Lihatlah masa pensiun sebagai kesempatan untuk memulai lembaran baru dalam hidup untuk lebih mudah mencapai tujuan hidup Anda. Artinya, Anda bisa menentukan tujuan hidup sama sekali baru, atau melanjutkan misi dan tujuan yang selama ini telah Anda idamkan. Setelah pensiun, kita bisa melanjutkan apa yang telah kita lakukan dalam skala yang berbeda, atau melakukan sesuatu yang sama sekali berbeda. Bagi orang-orang yang sebelum pensiun berada di posisi berotoritas tinggi, penyesuaian ketika pensiun tentunya akan terasa lebih menantang.

Ketiga, Membangun hubungan baru dengan orang lain. Ketika kita meninggalkan pekerjaan (karena pensiun), bisa jadi kita kehilangan hubungan dengan orang-orang yang sebelumnya pernah menjadi bagian dari rutinitas kita, sehingga perlu mengembangkan hubungan baru dengan orang lain. Mulailah membangun relasi dengan orang-orang di luar pekerjaan dan terlibat dalam kegiatan yang diinginkan setelah pensiun sejak saat ini. Kegiatan yang mungkin dilakukan yaitu dengan travelling, terlibat dalam kegiatan sukarela, atau sekedar olah raga bersama-sama. Hubungan kita dengan pasangan atau keluarga juga dapat berubah (drastis) setelah pensiun karena kita (mungkin) akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Terlalu banyak kebersamaan, terkadang menyebabkan orang untuk lebih cepat bosan dan/atau tersinggung, bahkan untuk hal-hal kecil di lingkungan keluarga. Jangan menunggu sampai timbul konflik untuk berbicara tentang harapan dengan pasangan, anak, cucu, orangtua, dan teman-teman. Mulailah musyawarah mufakat untuk menegosiasikan beberapa aturan dasar baru.

Keempat, memahami usaha yang sesuai saat pensiun. Bagi yang ingin memulai usaha sendiri atau berbisnis, pertimbangkan beberapa hal. Jika memungkinkan, sesuaikan bidang usaha dengan minat kita, misalnya dengan mengembangkan hobi yang sebelumnya tertunda karena rutinitas pekerjaan. Menjalankan usaha, tentu saja akan berkontribusi positif pada kondisi fisik dan mental kita. Apabila bisnis tersebut memerlukan modal awal, pastikan bahwa jumlahnya tidak terlalu besar. Jangan sampai masa pensiun yang seharusnya menyenangkan menjadi terganggu, jika ternyata bisnis tidak berjalan lancar. Hal yang perlu diingat adalah berbisnis ketika pensiun adalah sebuah pilihan, bukan keharusan. Selain menjalankan bisnis, kita juga bisa mempertimbangkan untuk menjadi investor. Kalaupun tidak seperti Jack Ma, Warren Buffett, atau Robert T. Kyosaki, minimal kita menjadi investor di Koperasi dengan memiliki simpanan yang menghasilkan pasif income dari SHU setiap tahun sekali.

Pensiun bukanlah akhir segalanya. Rencanakan dengan matang masa pensiun sekarang juga. Jalani hidup dengan gaya hidup sehat dan kondisi mental yang positif. Temukan kesenangan dan aktivitas baru untuk mengisi waktu. Jangan khawatir, tetap bersemangat dalam menghadapi saat pensiun. Seperti buku yang saya beli dan baca di Gramedia, jadilah pensiun GAUL karya Tessie Setiabudi & Joshua Maruta: Gaya hidup sehat dan bahagia; Aktivitasnya bermanfaat; Uangnya banyak; dan Lupanya sedikit.

Selamat merencanakan pensiun!

# semoga saya pribadi bisa membaca laman ini dengan bangga ketika saya pribadi pensiun, nanti.

One thought on “Sudah Siap Pensiun? Jangan Hawatir!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: