Lanjut ke konten

What Are You Doing When You Are 25 Years Old

IMG_20170204_091600.jpg

Now i’m not 25 years old. When i write this page, i’m 30 years old. Today i’m listening the explanation what Jack Ma said on youtube, when he speech on the stage and explain the question from some audiences “what are you doing when you can came back to 25 years old?”

Sorry my english is terrible.

Ketika seseorang masih muda, baru lulus kuliah atau sekolah, secara spontan mereka akan berfikir langkah selanjutnya. Apa itu? Bekerja, bekerja, bekerja. Untuk apa? untuk memperoleh uang, uang untuk ini, uang untuk itu, dan seterusnya. Tidak sedikit antar mereka sendiri saling bersaing dengan “sikut-sikutan” untuk memperoleh pekerjaan yang mereka inginkan. Orang pada umumnya akan berusaha untuk menjadi pekerja, karena memang sekolah dan perguruan tinggi saat ini dirancang untuk mencetak para pekerja. Bahkan data menunjukkan bahwa rata-rata penduduk saat ini berpendidikan tidak lebih dari SMP. Kenapa? Karena mereka tidak sabar untuk bekerja, bekerja dan bekerja untuk menghasilkan apa? lebih dini menghasilkan uang.


Baca Juga: Perencanaan Keuangan Keluarga


Ketika telah bekerja, orang akan menggunakan upahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, mulai dari kebutuhan primer, sekunder, tersier dan seterusnya. Banyak orang dapat memenuhi kebutuhan hidup sampai dengan kebutuhan tersier, namun lebih banyak lagi orang yang bahkan harus banting tulang, tidak tidur siang dan malam hanya untuk berjuang memenuhi kebutuhan primer mereka. Bekerja 24 jam seolah tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin lama semakin membengkak, membengkak lagi, membengkak lagi dan lagi. Tidak sedikit bahkan bila mereka hari ini sakit, mereka akan kebingungan apa yang akan mereka makan esok hari, karena hari ini mereka tidak bisa bekerja.

Apa yang salah dengan semua ini?

Apabila permasalahan utama dan yang selama ini dicari adalah uang, maka kesalahan utama adalah mengenai pemahaman, wawasan, mindset atas uang itu sendiri. Kita bekerja untuk memperoleh uang, Betul?. Dengan bekerja tambahan maka kebutuhan akan uang akan terpenuhi, Betul?. Atas uang itulah kita akan bahagia karena bisa melakukan banyak hal dan sukses, Betul? Sebanyak jawaban betul itulah mindset kita telah jauh bertolak belakang dengan uang itu sendiri.

Kita bekerja bukan untuk uang. Uang adalah akibat atas apa yang kita lakukan. Uang akan mengikuti kita, bukan kita yang mengikuti uang. Adalah salah besar bila tujuan utama atas apa yang kita lakukan (bekerja) adalah untuk uang. Uang adalah sebuah alat untuk transaksi, bukan tujuan. Kalaupun memang tujuan utama kita bekerja adalah uang, seberapa besar (limit) jumlah uang yang ingin dimiliki? Seandainya seluruh uang yang ada di muka bumi ini menjadi milik hanya satu orang (kamu), apakah itu tujuan kamu bekerja?

Dalam sehari, seseorang bisa menghabiskan waktu 7-8 jam untuk bekerja, bahkan lebih, hanya untuk mengumpulkan uang. Orang meninggalkan keluarga, kerabat, untuk bisa mengumpulkan uang lebih dibandingkan dengan uang yang dikumpulkan oleh keluarga dan kerabatnya sendiri. Bahkan tidak banyak yang menjadikan uang yang telah berhasil dikumpulkan sebagai indikator keberhasilan, kesuksesan, kebijaksanaan seseorang.

Siapa yang menyangkal bahwa dengan uang kita dapat melakukan lebih banyak hal. dibandingkan dengan orang yang tidak ‘beruang’. Apakah hal tersebut menjadi indikator kebahagiaan seseorang? Orang yang bangga dan senang karena bisa melancong ke seluruh lokasi wisata terindah di dalam negeri, merasa tidak lebih bahagia apabila dia bisa melancong ke luar negeri. Orang yang senang dan bangga karena bisa melancong ke luar negeri, merasa tidak lebih bahagia apabila dia bisa melancong mengelilingi dunia setiap hari, dan seterusnya. Artinya apa?

Lah, emang kamu (penulis) tidak butuh uang? Tidak mau uang? Banyak hamsyong…
Hahaha… Hampir semua orang di muka bumi ini membutuhkan uang. Tidak salah, orang membutuhkan uang. Namun jangan jadikan uang sebagai tujuan utama atas sisa kehidupan kita saat ini.


Lihat Juga: Aku Tanpamu, Butiran Debu – Perencanaan


Ketika seorang Jack Ma menjawab, apa yang akan kamu lakukan ketika bisa kembali ke usia 25 tahun, dia menjawab bahwa dia akan pergi ke China, mempelajari bagaimana kebutuhan (market) disana, dan pergi ke Amerika dan memikirkan mengenai hal besar dan kembali ke China untuk melakukan hal besar tersebut secara mendetil. Hal besar tersebut merupakan problem solving bagi sebagian besar manusia dan optimis bahwa hal tersebut akan berhasil di masa depan. Tentunya hal besar tersebut harus didukung dengan memanfaatkan infrastruktur IT. Dengan infrastruktur IT, maka akan semakin banyak manusia yang merasakan problem solving kita, yang artinya oportunity akan berada dimanapun dan kapanpun selama ada internet. Sadarkah, untuk membaca tulisan ini pun membutuhkan internet. Bahkan bisa jadi ada yang sedang membaca sambil istirahat, berangkat bekerja, sedang “nongkrong” di belakang dan lain sebagainya.

Ketika berusia 25 tahun, maka kita harus lebih dini melihat oportunity. Oportunity akan selalu ada ketika ada orang lain yang mengeluh. Ketika banyak orang mengeluhkan sesuatu, maka kita jangan mengeluh, tetapi mencari solusi untuk keluhan tersebut. Itulah oportunity.

Ketika kita bisa melihat oportunity, jangan bekerja sendiri untuk mencapai hal tersebut. Buatlah tim kerja yang sepaham dengan oportunity yang kita identifikasi dan pastikan bahwa seluruh anggota tim optimis bahwa hal tersebut akan berhasil di masa yang akan datang dan memberikan manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang yang mengeluh tersebut. Jangan perdulikan tetangga, kerabat, pasangan, bahkan keluarkan anggota tim yang tidak yakin bahwa hal tersebut akan berhasil. Ikutilah insting, bukan teori.

Ketika kamu berusia 25 tahun, jangan ragu dan jangan takut untuk gagal. Setiap kali kegagalan yang kamu alami adalah revenue bagi kamu saat ini untuk masa depan yang lebih baik. Kamu masih memiliki waktu untuk bangkit, bangkit dan bangkit lagi.


Lihat Juga: Orang Ini Emosi Melihat Uang


Jangan mengikuti sosok seorang Robert T. Kiyosaki, Donal Trump, Warren Buffet, bahkan Jack Ma sebagai panutan. Mereka terlalu tinggi. Bukalah mata kamu, lihatlah tetangga kanan dan kiri atau di kantor atau di keluarga, dimana saja, orang-orang yang telah berhasil di sekitar kamu, dan pilih mereka untuk dijadikan panutan. Buatlah sebuah perusahaan dan jalankan misi kamu di dunia ini untuk sebagai problem solving.

Dan yakinlah bahwa uang akan mengukuti kita, bukan kita yang mengikuti uang.

Usianya kamu sudah lebih dari 25 tahun? Jangan hawatir, saya juga baru sadar setelah usia 25 tahun. Namun tidak ada kata terlambat untuk memulai menjadi problem solving.

Apa yang harus saya lakukan ketika usia saya sudah 30-40 tahun? Apa yang harus saya lakukan ketika usia saya sudah 40-50 tahun? Apa yang harus saya lakukan ketika usia saya sudah lebih dari 50 tahun? Tunggu tulisan berikutnya, ya…

How big you think and do detail?

Oleh: Khoirul Mampe

4 Comments »

  1. Ping-balik: fasicha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: